Banyak orang yang mau mulai bisnis produk kecantikan akhirnya stuck di satu pertanyaan yang sama: mulai dari parfum dulu, atau skincare?
Keduanya punya pasar yang besar. Namun keduanya juga punya tantangan yang sangat berbeda. Sebelum kamu memutuskan, ada beberapa hal penting yang perlu kamu pertimbangkan dengan kepala dingin.
1. Seberapa Besar Pasarnya
Industri kecantikan Indonesia adalah salah satu yang terbesar di Asia Tenggara. Menurut laporan Statista 2023, nilai pasar kosmetik dan perawatan pribadi Indonesia diperkirakan mencapai USD 8,5 miliar dan terus tumbuh setiap tahunnya.
Namun di dalam angka besar itu, parfum dan skincare punya dinamika yang berbeda.
Skincare adalah kategori dengan volume transaksi tertinggi — konsumen membelinya berulang kali karena produk habis dipakai. Oleh karena itu, potensi repeat order-nya sangat besar. Namun persaingannya juga sangat ketat. Ribuan brand skincare baru lahir setiap tahun, dan konsumen makin kritis soal kandungan dan klaim produk.
Parfum di sisi lain punya barrier persaingan yang lebih rendah untuk brand baru. Selain itu, loyalitas konsumen parfum cenderung lebih kuat — kalau seseorang sudah suka wangi tertentu, mereka akan terus balik beli.
2. Kompleksitas Produksi dan Regulasi
Ini salah satu faktor yang paling sering diremehkan oleh calon pemilik brand baru.
Skincare — terutama yang mengandung bahan aktif seperti niacinamide, retinol, atau AHA/BHA — membutuhkan uji klinis yang lebih ketat sebelum bisa mendapatkan izin edar BPOM. Proses formulasinya lebih kompleks karena harus mempertimbangkan stabilitas bahan, pH, dan interaksi antar kandungan.
Parfum secara regulasi masuk kategori kosmetik ringan. Proses notifikasi BPOM-nya relatif lebih straightforward dibanding produk skincare dengan klaim aktif. Namun tetap wajib diurus sebelum produk bisa dijual secara resmi.
Berdasarkan pengalaman industri yang dicatat dalam Indonesia Cosmetic Industry Report 2022, waktu rata-rata dari pengembangan produk hingga izin edar untuk parfum lebih singkat dibanding produk skincare dengan kandungan aktif — menjadikannya pilihan yang lebih efisien untuk brand yang ingin cepat masuk ke pasar.
3. Modal Awal yang Dibutuhkan
Skincare umumnya membutuhkan investasi awal yang lebih besar. Selain biaya produksi, ada biaya uji stabilitas, uji dermatologi, dan kadang uji klinis yang harus dilakukan sebelum produk bisa diklaim aman.
Parfum relatif lebih terjangkau untuk dimulai — terutama dengan sistem maklon yang sudah mencakup pengembangan formula dan fasilitas produksi. Kamu bisa mulai dengan satu varian, satu ukuran, dan satu konsep yang fokus tanpa harus langsung invest besar.
Selain itu, margin keuntungan parfum cenderung lebih tinggi dibanding skincare di kategori yang sama. Konsumen lebih bersedia membayar premium untuk wangi yang mereka suka dibanding untuk moisturizer dengan klaim serupa.
4. Mana yang Lebih Cocok untuk Brand Pertama
Kalau kamu baru pertama kali masuk ke industri ini, parfum punya beberapa keunggulan praktis sebagai titik masuk pertama.
Pertama, proses produksinya lebih cepat dan lebih mudah dikelola untuk skala kecil. Kedua, diferensiasi brand lebih mudah dibangun lewat aroma, nama, dan storytelling — tanpa harus bersaing di ranah klaim kandungan yang butuh pembuktian ilmiah. Ketiga, modal awalnya lebih efisien untuk brand yang masih dalam tahap validasi pasar.
Namun kalau kamu sudah punya pengetahuan mendalam soal skincare dan target konsumen yang spesifik, skincare tetap bisa jadi pilihan yang kuat — asalkan kamu siap dengan proses yang lebih panjang.
Apapun pilihan kamu, satu hal yang pasti: proses legalitas BPOM harus beres sebelum produk dijual.
Di Maklonparfume.com, seluruh proses legalitas BPOM ditangani langsung oleh tim konsultan kami — mulai dari persiapan dokumen sampai notifikasi terbit. Kamu cukup fokus ke brand dan strategi penjualan. Urusan legalitas, kita yang selesaikan. Klien benar-benar terima beres.
Konsultasi gratis sekarang lewat WhatsApp — dan kita diskusi bareng mana langkah pertama yang paling tepat untuk kamu.
