Kalau kamu perhatiin tren parfum beberapa tahun terakhir, ada pergeseran yang cukup jelas — orang-orang makin banyak yang beralih ke wangi yang ringan, bersih, dan nggak terlalu “nendang”. Bukan berarti wangi yang kuat udah nggak relevan, tapi ada sesuatu dari aroma clean dan soft yang terasa lebih pas dengan gaya hidup sekarang.
Pertanyaannya: kenapa?
A. Ini Bukan Sekadar Tren, Ada Data di Baliknya
Menurut laporan dari Mintel Global Fragrance Trends 2023, preferensi konsumen global mulai bergeser ke kategori wangi yang mereka sebut sebagai “skin-scent” — aroma yang menyatu dengan kulit, terasa seperti bagian dari diri sendiri, bukan sesuatu yang disemprotkan dari luar. Kategori ini didominasi oleh note seperti musk putih, suede, sandalwood lembut, dan iris.
Di Indonesia sendiri, survei internal dari beberapa distributor parfum lokal menunjukkan bahwa konsumen usia 20–35 tahun semakin tertarik pada aroma yang “nggak mencolok tapi tetap ada” — frasa yang sering muncul adalah wangi yang bikin nyaman, bukan wangi yang minta perhatian.
B. Ada Alasan Psikologis di Baliknya
Penelitian dari Frontiers in Psychology (2020) menemukan bahwa aroma yang lembut dan bersih cenderung memicu respons emosional yang lebih positif dibandingkan aroma yang berat dan intens, terutama di lingkungan kerja atau ruang publik. Otak kita mengasosiasikan wangi clean dengan kebersihan, ketenangan, dan kepercayaan diri — bukan kesan yang berlebihan.
Ini juga nyambung sama fenomena yang disebut olfactory fatigue — kondisi di mana hidung kita jadi “lelah” kalau terlalu lama terpapar wangi yang kuat. Parfum dengan aroma ringan justru bertahan lebih lama di persepsi orang sekitar karena nggak memicu kelelahan penciuman yang sama.
C. Faktor Gaya Hidup yang Ikut Mendorong
Tren clean living dan minimalism yang makin populer pasca pandemi juga punya andil besar. Orang mulai selektif — nggak cuma soal makanan atau skincare, tapi juga soal apa yang mereka pakai dan semprotkan ke tubuh.
Ada juga faktor kesadaran bahan. Konsumen sekarang lebih banyak baca label, lebih peduli soal transparansi formula. Aroma clean secara nggak langsung diasosiasikan dengan produk yang lebih “aman” dan “natural” — meskipun ini belum tentu selalu akurat secara teknis, tapi persepsi ini nyata di benak konsumen.
Satu lagi: era media sosial. Wangi yang soft dan clean lebih mudah dideskripsikan dan “dijual” secara verbal di konten digital. “Wangi kayak habis mandi”, “kayak kulit bersih”, “fresh tapi hangat” — frasa-frasa ini jauh lebih mudah viral dibanding deskripsi wangi yang kompleks dan teknis.
D. Implikasinya Buat Kamu yang Mau Bikin Brand Parfum
Kalau kamu lagi merencanakan konsep parfum brand sendiri, tren ini penting banget buat dipertimbangkan sejak awal. Bukan berarti kamu harus ikut-ikutan bikin aroma clean, tapi kamu perlu tahu siapa target konsumenmu dan apa yang mereka cari secara emosional dari sebuah wangi.
Aroma clean dan soft bukan cuma soal note parfum yang dipilih — ini soal pengalaman yang ingin kamu berikan. Dan itu harus konsisten dari nama produk, visual kemasan, sampai cara kamu komunikasikan produknya ke pasar.
Formulasi yang tepat untuk menciptakan karakter aroma seperti ini juga butuh keahlian khusus — karena “clean” yang terasa premium itu berbeda dengan “clean” yang terasa hambar.
Di sinilah pentingnya mulai dari diskusi yang tepat sebelum produksi.
Tim kami bisa bantu kamu dari tahap konsep aroma, pengembangan formula, sampai produk siap jual lengkap dengan legalitas BPOM. Kalau kamu lagi memikirkan konsep parfum brand sendiri — mau yang clean, soft, bold, atau apapun — konsultasi dulu nggak ada ruginya.
Mulai konsultasi gratis sekarang lewat WhatsApp — dan kita bahas bareng konsep yang paling pas buat brand kamu.

Maklon parfume