Kapan dan Mengapa Orang Memakai Parfum?
Parfum bukan lagi sekadar pelengkap penampilan. Bagi banyak orang di Indonesia, parfum telah menjadi bagian penting dari identitas diri dan rutinitas harian. Tren ini diperkuat oleh semakin banyaknya brand lokal yang menawarkan aroma beragam, harga lebih terjangkau, dan kemasan yang estetik. Namun, pola konsumsi parfum tidak hanya ditentukan oleh aroma. Ia dipengaruhi waktu penggunaan, tujuan pemakaian, suasana hati, dan gaya hidup.
Maklon Parfume by PT. Nirmala Kalyani Jaya melakukan analisis mendalam terhadap pola konsumen Indonesia untuk memahami momen dan alasan seseorang memakai parfum—sebuah insight strategis penting bagi pemilik brand parfum.
1. Pagi Hari: Waktu Terbanyak Orang Menyemprotkan Parfum
Mayoritas pengguna parfum mengawali hari dengan parfum. Parfum digunakan sebelum beraktivitas ke kantor, kampus, sekolah, hingga situasi nonformal. Tujuan utama pemakaian parfum di pagi hari adalah untuk percaya diri dan tampil rapi.
Karakter aroma yang paling populer untuk pagi hari:
- clean floral musk,
- citrus segar,
- fruity lembut,
- aquatic fresh.
Parfum dengan karakter ini disebut “comfort scent” karena aman untuk lingkungan sosial dan tidak terasa berlebihan. Brand parfum yang menargetkan pasar harian perlu memprioritaskan aroma ringan yang nyaman untuk penggunaan pagi dan siang.
2. Siang – Sore: Parfum Digunakan untuk Menyegarkan Diri
Cuaca tropis Indonesia membuat banyak orang menyemprot parfum kembali di siang atau sore hari. Inilah alasan body mist, hair mist, dan EDT memiliki volume penjualan tinggi—format ini cocok untuk reapply karena aromanya ringan dan cepat menguap.
Alasan pemakaian parfum di siang hari:
- merasa kurang fresh,
- ingin tampil lebih segar setelah aktivitas fisik,
- bertemu orang baru setelah istirahat siang,
- olahraga ringan.
Aroma populer untuk momen ini:
- citrus creamy,
- clean cotton fresh,
- peach fruity soft,
- herbal mint ringan.
Insight ini menunjukkan peluang besar untuk brand yang ingin menjual parfum dalam botol besar atau mist sebagai “refreshing fragrance”.
3. Malam Hari: Parfum untuk Romansa dan Self-Luxury
Berbeda dengan siang, pada malam hari konsumen memilih aroma lebih tebal dan dramatis untuk kebutuhan personal maupun momen spesial. Parfum tidak hanya untuk menarik perhatian orang lain, tetapi untuk self-pampering—cara memberikan hadiah kepada diri sendiri setelah hari yang panjang.
Aroma favorit untuk penggunaan malam:
- soft amber,
- vanilla powdery,
- oud lembut,
- floral dark,
- sandalwood.
Identitas yang ingin ditampilkan:
- dewasa,
- percaya diri,
- intim,
- misterius,
- elegan.
Brand parfum yang ingin memasuki pasar luxury dapat memanfaatkan tren ini dengan menawarkan Extrait de Parfum atau EDP intens.
4. Tujuan Utama Orang Indonesia Memakai Parfum (Berdasarkan Tren Pasar)
Ada lima motivasi terbesar dalam konsumsi parfum:
| Alasan Utama | Makna bagi Konsumen |
|---|---|
| Percaya diri | Merasa tampil maksimal |
| Wangi bersih | Identitas diri yang rapi dan sopan |
| Menarik perhatian | Aroma sebagai bahasa non-verbal |
| Self-care | Aroma untuk menenangkan diri |
| Koleksi | Mengikuti tren & berganti mood |
Banyak konsumen kini memiliki lebih dari satu parfum untuk beragam suasana dan momen. Inilah peluang brand untuk menawarkan series dengan karakter aroma saling terhubung namun berbeda tema.
5. Genderless & Unisex — Pergeseran Konsumsi Generasi Muda
Generasi muda tidak lagi memilih parfum berdasarkan label “untuk pria / wanita”. Mereka memilih aroma berdasarkan siapa diri mereka saat itu. Inilah alasan naiknya popularitas:
- musk unisex,
- amber-soft,
- woody citrus,
- sweet creamy soft,
- minimalis clean.
Brand parfum yang ingin dekat dengan Gen Z dan milenial perlu membangun komunikasi aroma berbasis karakter, bukan berbasis gender.
6. Ukuran Botol Menentukan Frekuensi Pembelian
Konsumen yang memakai parfum harian dan menyemprot ulang di siang hari cenderung memilih varian:
- 100 ml untuk penggunaan intens,
- 30–50 ml untuk dibawa saat bepergian,
- 150–250 ml khusus body mist untuk “spray besar”.
Sementara pengguna parfum malam atau acara spesial cenderung memilih:
- Extrait 30–50 ml dengan aroma intens.
Brand dapat memaksimalkan penjualan dengan menawarkan ukuran multifungsi, bukan satu ukuran universal.
💠 Kesimpulan
Pola konsumsi parfum di Indonesia menunjukkan tiga hal penting bagi setiap brand:
- Momen pemakaian berbeda → aroma harus sesuai penggunaan.
- Pertimbangan emosional kuat → parfum adalah bahasa identitas diri.
- Generasi muda memimpin pasar → aroma unisex dan clean-soft mendominasi.
Brand yang memahami kapan dan mengapa konsumen memakai parfum dapat membangun koleksi produk yang relevan, bukan hanya wangi. Ketika aroma membantu memperkuat rasa percaya diri pengguna, maka ia tidak hanya membeli—ia kembali.
Ditulis oleh : TIM MAKLON PARFUME by PT. NIRMALA KALYANI JAYA
